eigerRimba Tualang Baturraden

Upaya Mengubah Hutan Produksi untuk Wisata

Naskah:Adiseno.
Foto: Harijanto Suwarno.

Purwokerto - Kisah cinta kerap meresap ke bumi dan menjadikannya abadi. Taj Mahal, misalnya. Begitu pun Baturraden, pasangan gamel (pemelihara kuda) seorang Adipati dan putri Adipati Kutaliman yang tidak direstui, memadu kasih di tepi hutan dengan sungai berbatu masif membentuk kolam dan air terjun. Tempat mereka pun dikunjungi pasangan dari sejak itu ke masa kolonial hingga sekarang ketika reformasi politik menghasilkan penjarahan hutan.

Hutan ditepi sungai atau ”tanah yang indah” (batur adi), kini sudah berubah menjadi hutan produksi dibawah Perum Perhutani KPH Banyumas Timur. Kawasan ini menjadi perpaduan antara wisata dan hutan produksi. Perhutani melihat potensi ini, dan membentuk PT Palawi untuk mengelola objek wisata seperti Pancuran Tujuh, sumber air panas di lereng Gunung Slamet (3.428 mdpl).

Upaya melakukan diversifikasi, melalui pihak kedua pun menjadi opsi bagi Perhutani dalam mengembangkan usaha. Lereng Slamet pun memiliki berbagai kawasan ”tanah indah” yang dinilai berpotensi. Salah satunya kawasan hulu sungai Pelus, dengan tegakan agathis (damar), pinus, lembah, air terjun dan sungai berkolam-kolam dari batu massif.

Kawasan yang berada tiga kilometer dari pusat wisata Baturraden, selain memiliki potensi juga menghadapi berbagai tantangan. Selain ”indah” daerah itu sudah kerap mendapat kunjungan dengan objek wisata Telaga Sunyi. Namun jumlah pengunjungnya sangat timpang dengan jumlah pengunjung hanya ribuan per tahun, jika dibandingkan Lokawisata Baturraden yang mendapatkan 300 ribu pengunjung untuk tahun 2008. Hingga satu kilometer menjelang Sungai Pelus, terdapat hotel Queen, satu dari hotel berbintang tiga di Baturraden. Pengunjung hotel yang juga ada wisatawan asing ini pun tidak memanfaatkan potensi Sungai Pelus.

”High Rope Course”
Action Asia, majalah petualangan terbitan Hongkong edisi Januari Februari 2009, mengangkat high rope course yang menurut mereka sedang booming di Asia. Ada tiga tipe yang berkembang, yakni di perkotaan seperti di Ancol, di taman hutan seperti di Kebun Raya Bedugul, dan yang berada di hutan asli seperti di kawasan pelestarian gibbon di Laos.

Membuat high rope course sebagai dayatarik untuk kawasan Sungai Pelus dengan istilah Treetrek menjadi pilihan pihak PT Bangkit Maju Wisata (BMWisata) yang mendapatkan hak kerjasama operasi dari Perhutani KPH Banyumas Timur untuk periode 2009 hingga maksimal 30 tahun.

BMWisata pun menjuluki kawasan hulu Sungai Pelus jadi Rimba Tualang Baturraden Adventure Forest. Perusahaan diprakarsai Ita Budhi, pendaki Mapala UI yang bersama Karina Arifin merupakan perempuan pertama Indonesia mencapai Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) pada tahun 1980. Tentu saja nuansa tualang menjadi pilihannya. Selain treetrek, BAF untuk singkatnya, juga merencanakan akan membangun zipline, kabel luncur atau lebih dikenal dengan flying fox dengan panjang antara 800 meter hingga 1.000 meter yang diharapkan jadi terpanjang di Asia.

Manajemen Emisi Karbon.
”Darah” pencinta alam pun tetap mengalir hingga operasi BAF direncanakan untuk berada dalam koridor ramah lingkungan. Kebutuhan listrik untuk operasi pun menggunakan pikohidro, pembangkit listrik menggunakan tenaga air dengan kapasitas dibawah 5.000 watt. Dua pikohidro kapasitas 650 watt dan 1.000 watt Produk lokal dari Bandung Jawa Barat, karya CV Cihanjuang, sedang dipasang BAF.

Bangunan pun menggunakan materi yang kebanyakan berupa bambu, baik untuk barak para staff pemandu tualang maupun kantin bagi pengunjung. Jembatan yang menyeberang sungai Pelus pun dirancang dari bambu, berikut pos jaga dan lainnya. Rencananya pengelolaan arena tualang ini akan memanfaatkan manajemen emisi karbon sebagai salah satu sistemnya, selain sistem manajemen umum.

Catatan pembangunan yang dibatasi hanya 10 prosen dari seluruh kawasan kerjasama operasi akan dikonversikan dalam ukuran emisi karbon. Artinya produk lokal akan diutamakan agar kuantitas emisi karbon dari transportasi akan minimum, jika dibandingkan menggunakan barang impor. Juga pengelolaan yang akan menggunakan bantuan transportasi, tenaga kerja, layanan kantin dan sebagainya dikonversikan dalam ukuran karbon. Ini akan dibandingkan dengan produk serapan karbon dari sisa kawasan yang tidak dibangun, dengan harapan menghasilkan surplus. Hingga produk dan manajemen yang “ramah lingkungan” bisa dicapai oleh BAF.

Salah satu kendala yang kini masih dikaji adalah beragamnya cara penghitungan emisi karbon. Pilihan sulit ini dipertimbangkan untuk mencapai cita-cita BAF menjadi nominasi dalam Wild Asia Responsible Tourism Award, penghargaan bergengsi pengelolaan wisata ramah lingkungan.
Jika ini tercapai maka upaya rintisan di kaki Gunung Slamet ini akan menjadi pernikahan wisata dan pengelolaan hutan yang sesuai dengan salah satu misi kehutanan Indonesia. Laku dijual, dan menyokong pengurangan emisi karbon global, semoga.